Tuesday, 31 January 2017

Aku Benci Bulan Seutuhnya

Karena malam tidak akan pernah menyaksikan keramahan matahari yang mencium kepala ku dengan hangat. Matahari membiarkan aku meletakkan segala dustaku akan semesta yang menjerit-jerit kesakitan. Semalam aku berkata pada bulan untuk selalu bersamaku saat angin timur menyapa, namun bulan mengatakan bahwa hal tersebut adalah hal yang mustahil. Karena aku adalah pendusta semesta. Ya, dengan cara itu Tuhan mengingatkan aku bahwa hanya matahari yang masih mencintaiku hingga tulang rusukku.

Dengan tatapan penuh racun asam, aku luapkan kekecewaanku pada bulan yang tetap tersenyum diatas temaramku. Aku berharap malam ini hanyalah langit jelaga. Biarlah bulan itu enyah tanpa percikan cahayanya. Karena benciku tak semain-main itu pada bulan. Aku ingin malam ini cepat-cepat enyah agar aku bisa bertemu cintaku; matahari. Wahai semesta, kenapa bulan menghampiriku malam ini? Kenapa kau biarkan ia menyakitiku diatas segala tumpukan dustamu padaku? 

Di atas tebing kerikil ini aku terduduk dengan tulang-tulang rapuhku sendiri. Aku mencubit ujung-ujung jariku agar aku tetap terjaga dengan kekecewaanku. Aku tahu, aku tidak akan membiarkan diriku tertidur dengan luka menganga di dada. Terbiarkanlah diriku ini menahan sakit, setidaknya aku tahu dalam hitungan jam aku akan merasa kebal. Ya, aku harap begitu. Tidak ada belas kasihan untuk diri bodohku hari ini. Kau makan saja perban itu, aku sudah membalut lukaku sendiri. Sendiri. Tanpa kamu, bulan.