"Bukan. Bukan itu maksudku. Kamu hanya salah mengerti."
Karena bukan angan akan pelukanmu yang aku tunggu, melainkan alunan kata - kata manis dari mulutmu yang ku rindu. Seperti kesesakkan di antara lusinan teriakan pedagang pasar yang beriringan dengan alunan kegelisahan batin ini. Aku tidak pernah mengerti bagaimana menyelesaikan penyiksaan dunia ini akan merindunya aku pada jiwamu.
Tertampar, wajah ini oleh ciuman hangatmu yang merasuki otakku, hormon - hormon yang dalam tubuh ini tersekresi dengan sendirinya. Tak bisa kuredam, mereka menyayat setiap organ - organ dalam tubuhku yang mendorong untuk memeluk tubuh hangatmu. Tapi itu hanya dalam benakku.
Aku berlarian di tepi sungai menyusuri jejak langkahmu, semenjak kepergianmu ratusan tahun lalu dalam benakku. Rasanya kaki ini sudah letih, sungai ini tak akan pernah berujung seperti teka - teki yang selalu keluar dari mulutmu. Ya, benar, aku hanya hidup dari serpihan kata - katamu yang selalu meninggalkan jejak hitam dijiwaku yang liar ini.
Kerinduan hanyalah sebuah malapetakan bagi kebodohan manusia akan perasaan dan ego nya. Akulah manusia itu. Luluh lantak lah semuanya setelah ini. Setelah kau katakan pergi dan tak kembali lagi, sampai angin topan meniup kembali pikiranmu pada serpihan teka - teki masa depan.
Kerinduan tidak akan pernah berpihak pada mereka yang tidak menunggu.
Jadi, menunggulah....
Agar kau tahu rasanya dicekik oleh kerinduan.