Ia memutuskan untuk berselingkuh dari keyakinannya selama ini untuk selalu percaya pada
sahabatnya yang selama ini telah ia cintai. Ia meruntuhkan segala kasih sayang dan perhatian
nya untuk sahabatnya itu. Oh, tidak, aku membuat kesalahan dalam kalimat ku sebelumnya. Jauh
merasuki logika dan perasaan, aku yakin kasih sayang dan perhatian yang dulu selalu ia
bubuhkan setiap saat untuk sang sahabat tercintanya itu telah runtuh bersamaan dengan
kepercayaan yang pernah ia berikan sebelumnya. Ia menatap nanar kepadaku, seakan matanya
memohon dan meraung - raung untuk mendapat secercah kenyamanan dari ku. Namun aku
memutuskan untuk membantunya untuk mengobati dan membalut luka - luka yang bersemayam
dijiwa dan raganya. Luka yang mengiris - iris segenap hati dan ego nya telah jauh
menghancurkan segala memori bahagia dalam hidupnya. Ia seperti tenggelam dalam racun
purnama. Seperti menatap malam dalam - dalam tanpa khayal dan angan.
Gelak tawa manja yang dulu ia miliki kini sudah sirna bak Dewa Surya yang menanggalkan diri
nya dari bumi ini. Ya Tuhan, apa yang kupikirkan? Jangankan untuk tertawa, aku rasa untuk
tersenyum saja ia sudah lupa bagaimana cara untuk menggerakan otot - otot di wajahnya.
Seperti ini kah rasanya patah hati? "Tidak! Hatiku tidak patah! Ini telah hancur berkeping -
keping! Ku mohon jangan kau remas lagi sisa - sisa kepingan ini. Biarkan saja begitu. Ini adalah
sisa kepingan terakhir yang ku simpan untukmu." Ia berkata. Aku mulai mengerti. Namun kini ku
sadarari bahwa aku hampir tenggelam dalam kelamnya dunia yang ia lihat.
Kau tahu apa yang ku lakukan untuk ia? Dari segala kelemahan ku, aku hanya mengupayakan
sekuat tenaga ku untuk mengukir senyum bagi dirinya. Untuk meluruhkan atmosfer kelam yang
menyelimuti kami berdua. Gairahku untuk membahagiakannya semakin besar, segaris lurus
dengan empati yang kini kumiliki. Kau tahu artinya? Jauh dalam diriku, aku ikut menangis. Aku
ikut tercabik - cabik. Aku ikut terombang - ambing dalam deburan ombak liar yang merenggut
nafas.
Namun apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah seseorang yang ia temui 3 tahun lalu di depan
gedung yang dipenuhi oleh manusia - manusia berkostum putih abu - abu untuk menuntut ilmu.
Aku adalah seorang manusia dengan hati yang keras dan hampa. Aku adalah seseorang yang kini
menjadi satu - satunya harapan bagi ia untuk berhenti bermuram durja. Aku adalah satu anak
hawa yang ia ingin kan untuk tetap berada di sisinya saat ini. Aku sudah mengatakan padamu
kan, tentang kekerasan hatiku? Baiklah, untuk menjadi selimut penghangat jiwa baginya adalah
hal yang sesungguhnya sulit untukku. Namun sejujurnya aku, hanya tak ingin ada seorang anak
hawa lain kehilangan jiwa nya karena satu perbuatan bodoh anak adam yang menyakiti dirinya.
Anak adam itu lah yang berselingkuh dengan sahabatnya. Ya, asal kau tahu, sahabatnya itu
adalah seorang anak hawa yang tega mengiris kulit - kulit dan daging hingga jauh dalam
menghunus serpihan - serpihan terakhir saudaranya sendiri. Ironis.
Berjanjilah padaku bahwa ini adalah rahasia antar kita saja, Jangan katakan pada yang lain jika
aku telah mengisahkan ini pada kalian. Karena ini adalah kisah ia yang hatinya telah hancur dan
telah kehilangan segala emosi positif dalam hati dan pikirannya. Cerita kelam dari belantara
kehidupan remaja yang beranjak dewasa. Sungguh aku ingin sekali megisahkan ini pada kalian,
agar kalian tahu bagaimana menderitanya ia yang kalian sakiti dengan sebuah pengkhianatan.
Jika kau bertemu aku suatu saat ini, berjanjilah, untuk tidak mengantarkan cerita yang sama
seperti ia. Sudah cukup aku lihat ia yang tersakiti dan menyedih akibat satu kata bernama
pengkhianatan. Entah kau adalah anak adam atau hawa, aku tidak peduli. Satu kata
'pengkhianatan' bagiku kini telah mengundang berbagai kesedihan dan trauma untukku. Tadi
sudah ku katakan, kan? Aku adalah manusia dengan hati keras yang luluh akibat ia yang
terkhianati datang padaku untuk meminta keselesaan. Ia yang telah dikhianati oleh sahabat dan
kekasihnya. Ia yang hampir mengakhiri hidupnya karena satu kisah cinta yang gagal. Ia yang
telah mencurah kan segenap hatinya untuk kedua orang busuk hati tersebut. Ia yang kini tak
mempunyai dunia lagi.
Ku mohon, katakan padaku bahwa ia adalah korban terakhir yang dilahirkan dari pengkhianatan!