Sunday, 29 March 2015

Kemarau di Tanah Semai

Aku berhadapan dengan murka ku sendiri. Sewujud dengan debur hujan yang menggerus batu kali. Sekeras aku memukul kaca dengan instrumen kayu. Apalah yang aku pertanyakan kali ini? Tak secuil pun senyum yang muncul untuk melawan murka. Untuk apa aku merajut dendam tak berkesudahan dengan ego yang lebih tajam daripada jarum? Untuk apa aku memanjakan amarah dengan sekelumit egosentris yang melekat dengan jiwaku? Dengan segenap ratapan bodoh berbau kelemahan tak menggubris jiwaku yang meronta - ronta, sungguh tak terarah. Aku merasa menjadi manusia dungu dengan segala ambisi negatif yang kini kian tak terkendali.

Jangan tatap mataku! Berani kau tatap mataku? Kuhantam batinmu dengan kesinisan prasangkaku!

Aku sedang tak bisa menjaga diriku, jadi janganlah usik aku dengan cerita bodohmu. Karena kali ini, keledai pun tidak lebih dungu daripada aku. Tetapi, percayalah pisau bermata dua pun tak kebih menyakitkan dari reaksi ku terhadap aksi mu.

No comments:

Post a Comment