Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku yang belum mendewasakan diri terhadap kekecewaan atau aku yang tetap berpendirian teguh akan adanya keajaiban. Aku terus mengingatkan diriku untuk tidak melakukan kesalahan yg sama. Untuk tidak pernah berharap lebih akan sesuatu. Aku mengendurkan harapanku. Aku mengatakan pada diriku, "berharaplah lebih sedikit dari sebelumnya." Namun sama saja. Harapan itu tak kunjung ku temui, bahkan serpihan nya saja tak tampak. Kemudian aku mengatakan pada diriku lagi, "berhentilah berharap sebelum kah tersakiti kesekian kalinya." Ya, aku sadar sulit untuk menghentikan diriku yang terus berharap.
Namu kali ini, aku putuskan diriku untuk tidak berharap sedikitpun dan membiarkan diri tenggelam dalam kekecewaan. Tak akan ada yang mengerti, karena sesungguhnya mereka hanya melihat sinar redup dari kedipan mataku yang sesungguhnya tak berarti banyak bagi yang keras hati. Bagai bintang yang menanggalkan langit pada siang hari seperti aku menanggalkan emosi pada duka yang diselimuti kabut. Bila kau tekan dahimu seperti kau melukai ragamu sendiri, maka ketahuilah tak semudah kau mengembalikan es yang sudah mencair ke bentuk semula. Sungguh, seharusnya kau mengerti bagaimana mengatakan mudahnya menjadi manusia yang peka dan beretika sebagaimana mestinya.
Maka ketahuilah surga tak seindah goresan luka yang dibubuhkan di telapak tangan sang dewa. Jagalah ragamu seperti kau menyelimuti ego mu dengan kegembiraan. Ketahuilah bagaimana aku bertahan merasuki setiap sel dalam tubuhku untuk ikut bertahan dalam malam dan kesengitan siang. Aku takkan pernah menggores lagi tinta merah di jari kelingking mu dengan amarah dan debu murka. Ketahuilah mulai kini aku akan bersikap sedingin salju di bulan desember.
Karena cukup sudah jelaga menjagaku dalam malam dan cukup sudah permata surya mengawasiku pada siang terik yang mencabik setiap inci ego manusia. Jika surga tak menampakkan serpihan nya pada jarak yang sempurna, maka sadarilah bahwa ia tengah menjauh mencari jarak yang kau rasakan dengan setiap nadir yang bergetar dalam jiwamu.
Selamat malam wahai jelaga. Mereka bilang kau datang karena ego manusia yang tak pernah kalah.
No comments:
Post a Comment