please don't stop climbing
please don't stop trying
please don't stop fighting
like a blood drops from a knife
like a dagger rips my life
you, devil by name a sacrifice
a deviant trembling bones you alive
thrive
it expands nothing like
happiness in a wild
stop ripping my life
my soul alive
i wanna keep it alive
for once in a life
i wanna find a passion to die
waiting for a soul to arrive
you morose
a thorn in a rose
you prose
no
don't
be here still so
like my mind and my love
for you, moron.....
Wednesday, 18 February 2015
Tuesday, 17 February 2015
A Letter from Feminists
Fierce and fly
Let those thoughts blow your mind
Let me catch your sight
Fly high
Remind me to break the style
When the woman shows her thigh
Let there be yourself shy
What's in your mind?
Don't break your fight
You may get high
As long as you don't go into the fire
Keep it dignified
Keep yourself in the light
Say it, women blight
We women swear, tear but we bear
Like we don't care
But we like to share
We women crush and rush
We push as solid as tush
But you man, you are a bush
To hurt us and say "shush!"
Flip and flop
You gotta stop
Let those thoughts only be the thoughts
Don't let it cross
Over the distance of the globe
Let there be a snow
Over the Europe
Let stow
But don't let your mind tied by the rope
Let those thoughts blow your mind
Let me catch your sight
Fly high
Remind me to break the style
When the woman shows her thigh
Let there be yourself shy
What's in your mind?
Don't break your fight
You may get high
As long as you don't go into the fire
Keep it dignified
Keep yourself in the light
Say it, women blight
We women swear, tear but we bear
Like we don't care
But we like to share
We women crush and rush
We push as solid as tush
But you man, you are a bush
To hurt us and say "shush!"
Flip and flop
You gotta stop
Let those thoughts only be the thoughts
Don't let it cross
Over the distance of the globe
Let there be a snow
Over the Europe
Let stow
But don't let your mind tied by the rope
Saturday, 10 January 2015
Rendaman Duka Dari Sahabat
Ia memutuskan untuk berselingkuh dari keyakinannya selama ini untuk selalu percaya pada
sahabatnya yang selama ini telah ia cintai. Ia meruntuhkan segala kasih sayang dan perhatian
nya untuk sahabatnya itu. Oh, tidak, aku membuat kesalahan dalam kalimat ku sebelumnya. Jauh
merasuki logika dan perasaan, aku yakin kasih sayang dan perhatian yang dulu selalu ia
bubuhkan setiap saat untuk sang sahabat tercintanya itu telah runtuh bersamaan dengan
kepercayaan yang pernah ia berikan sebelumnya. Ia menatap nanar kepadaku, seakan matanya
memohon dan meraung - raung untuk mendapat secercah kenyamanan dari ku. Namun aku
memutuskan untuk membantunya untuk mengobati dan membalut luka - luka yang bersemayam
dijiwa dan raganya. Luka yang mengiris - iris segenap hati dan ego nya telah jauh
menghancurkan segala memori bahagia dalam hidupnya. Ia seperti tenggelam dalam racun
purnama. Seperti menatap malam dalam - dalam tanpa khayal dan angan.
Gelak tawa manja yang dulu ia miliki kini sudah sirna bak Dewa Surya yang menanggalkan diri
nya dari bumi ini. Ya Tuhan, apa yang kupikirkan? Jangankan untuk tertawa, aku rasa untuk
tersenyum saja ia sudah lupa bagaimana cara untuk menggerakan otot - otot di wajahnya.
Seperti ini kah rasanya patah hati? "Tidak! Hatiku tidak patah! Ini telah hancur berkeping -
keping! Ku mohon jangan kau remas lagi sisa - sisa kepingan ini. Biarkan saja begitu. Ini adalah
sisa kepingan terakhir yang ku simpan untukmu." Ia berkata. Aku mulai mengerti. Namun kini ku
sadarari bahwa aku hampir tenggelam dalam kelamnya dunia yang ia lihat.
Kau tahu apa yang ku lakukan untuk ia? Dari segala kelemahan ku, aku hanya mengupayakan
sekuat tenaga ku untuk mengukir senyum bagi dirinya. Untuk meluruhkan atmosfer kelam yang
menyelimuti kami berdua. Gairahku untuk membahagiakannya semakin besar, segaris lurus
dengan empati yang kini kumiliki. Kau tahu artinya? Jauh dalam diriku, aku ikut menangis. Aku
ikut tercabik - cabik. Aku ikut terombang - ambing dalam deburan ombak liar yang merenggut
nafas.
Namun apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah seseorang yang ia temui 3 tahun lalu di depan
gedung yang dipenuhi oleh manusia - manusia berkostum putih abu - abu untuk menuntut ilmu.
Aku adalah seorang manusia dengan hati yang keras dan hampa. Aku adalah seseorang yang kini
menjadi satu - satunya harapan bagi ia untuk berhenti bermuram durja. Aku adalah satu anak
hawa yang ia ingin kan untuk tetap berada di sisinya saat ini. Aku sudah mengatakan padamu
kan, tentang kekerasan hatiku? Baiklah, untuk menjadi selimut penghangat jiwa baginya adalah
hal yang sesungguhnya sulit untukku. Namun sejujurnya aku, hanya tak ingin ada seorang anak
hawa lain kehilangan jiwa nya karena satu perbuatan bodoh anak adam yang menyakiti dirinya.
Anak adam itu lah yang berselingkuh dengan sahabatnya. Ya, asal kau tahu, sahabatnya itu
adalah seorang anak hawa yang tega mengiris kulit - kulit dan daging hingga jauh dalam
menghunus serpihan - serpihan terakhir saudaranya sendiri. Ironis.
Berjanjilah padaku bahwa ini adalah rahasia antar kita saja, Jangan katakan pada yang lain jika
aku telah mengisahkan ini pada kalian. Karena ini adalah kisah ia yang hatinya telah hancur dan
telah kehilangan segala emosi positif dalam hati dan pikirannya. Cerita kelam dari belantara
kehidupan remaja yang beranjak dewasa. Sungguh aku ingin sekali megisahkan ini pada kalian,
agar kalian tahu bagaimana menderitanya ia yang kalian sakiti dengan sebuah pengkhianatan.
Jika kau bertemu aku suatu saat ini, berjanjilah, untuk tidak mengantarkan cerita yang sama
seperti ia. Sudah cukup aku lihat ia yang tersakiti dan menyedih akibat satu kata bernama
pengkhianatan. Entah kau adalah anak adam atau hawa, aku tidak peduli. Satu kata
'pengkhianatan' bagiku kini telah mengundang berbagai kesedihan dan trauma untukku. Tadi
sudah ku katakan, kan? Aku adalah manusia dengan hati keras yang luluh akibat ia yang
terkhianati datang padaku untuk meminta keselesaan. Ia yang telah dikhianati oleh sahabat dan
kekasihnya. Ia yang hampir mengakhiri hidupnya karena satu kisah cinta yang gagal. Ia yang
telah mencurah kan segenap hatinya untuk kedua orang busuk hati tersebut. Ia yang kini tak
mempunyai dunia lagi.
Ku mohon, katakan padaku bahwa ia adalah korban terakhir yang dilahirkan dari pengkhianatan!
sahabatnya yang selama ini telah ia cintai. Ia meruntuhkan segala kasih sayang dan perhatian
nya untuk sahabatnya itu. Oh, tidak, aku membuat kesalahan dalam kalimat ku sebelumnya. Jauh
merasuki logika dan perasaan, aku yakin kasih sayang dan perhatian yang dulu selalu ia
bubuhkan setiap saat untuk sang sahabat tercintanya itu telah runtuh bersamaan dengan
kepercayaan yang pernah ia berikan sebelumnya. Ia menatap nanar kepadaku, seakan matanya
memohon dan meraung - raung untuk mendapat secercah kenyamanan dari ku. Namun aku
memutuskan untuk membantunya untuk mengobati dan membalut luka - luka yang bersemayam
dijiwa dan raganya. Luka yang mengiris - iris segenap hati dan ego nya telah jauh
menghancurkan segala memori bahagia dalam hidupnya. Ia seperti tenggelam dalam racun
purnama. Seperti menatap malam dalam - dalam tanpa khayal dan angan.
Gelak tawa manja yang dulu ia miliki kini sudah sirna bak Dewa Surya yang menanggalkan diri
nya dari bumi ini. Ya Tuhan, apa yang kupikirkan? Jangankan untuk tertawa, aku rasa untuk
tersenyum saja ia sudah lupa bagaimana cara untuk menggerakan otot - otot di wajahnya.
Seperti ini kah rasanya patah hati? "Tidak! Hatiku tidak patah! Ini telah hancur berkeping -
keping! Ku mohon jangan kau remas lagi sisa - sisa kepingan ini. Biarkan saja begitu. Ini adalah
sisa kepingan terakhir yang ku simpan untukmu." Ia berkata. Aku mulai mengerti. Namun kini ku
sadarari bahwa aku hampir tenggelam dalam kelamnya dunia yang ia lihat.
Kau tahu apa yang ku lakukan untuk ia? Dari segala kelemahan ku, aku hanya mengupayakan
sekuat tenaga ku untuk mengukir senyum bagi dirinya. Untuk meluruhkan atmosfer kelam yang
menyelimuti kami berdua. Gairahku untuk membahagiakannya semakin besar, segaris lurus
dengan empati yang kini kumiliki. Kau tahu artinya? Jauh dalam diriku, aku ikut menangis. Aku
ikut tercabik - cabik. Aku ikut terombang - ambing dalam deburan ombak liar yang merenggut
nafas.
Namun apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah seseorang yang ia temui 3 tahun lalu di depan
gedung yang dipenuhi oleh manusia - manusia berkostum putih abu - abu untuk menuntut ilmu.
Aku adalah seorang manusia dengan hati yang keras dan hampa. Aku adalah seseorang yang kini
menjadi satu - satunya harapan bagi ia untuk berhenti bermuram durja. Aku adalah satu anak
hawa yang ia ingin kan untuk tetap berada di sisinya saat ini. Aku sudah mengatakan padamu
kan, tentang kekerasan hatiku? Baiklah, untuk menjadi selimut penghangat jiwa baginya adalah
hal yang sesungguhnya sulit untukku. Namun sejujurnya aku, hanya tak ingin ada seorang anak
hawa lain kehilangan jiwa nya karena satu perbuatan bodoh anak adam yang menyakiti dirinya.
Anak adam itu lah yang berselingkuh dengan sahabatnya. Ya, asal kau tahu, sahabatnya itu
adalah seorang anak hawa yang tega mengiris kulit - kulit dan daging hingga jauh dalam
menghunus serpihan - serpihan terakhir saudaranya sendiri. Ironis.
Berjanjilah padaku bahwa ini adalah rahasia antar kita saja, Jangan katakan pada yang lain jika
aku telah mengisahkan ini pada kalian. Karena ini adalah kisah ia yang hatinya telah hancur dan
telah kehilangan segala emosi positif dalam hati dan pikirannya. Cerita kelam dari belantara
kehidupan remaja yang beranjak dewasa. Sungguh aku ingin sekali megisahkan ini pada kalian,
agar kalian tahu bagaimana menderitanya ia yang kalian sakiti dengan sebuah pengkhianatan.
Jika kau bertemu aku suatu saat ini, berjanjilah, untuk tidak mengantarkan cerita yang sama
seperti ia. Sudah cukup aku lihat ia yang tersakiti dan menyedih akibat satu kata bernama
pengkhianatan. Entah kau adalah anak adam atau hawa, aku tidak peduli. Satu kata
'pengkhianatan' bagiku kini telah mengundang berbagai kesedihan dan trauma untukku. Tadi
sudah ku katakan, kan? Aku adalah manusia dengan hati keras yang luluh akibat ia yang
terkhianati datang padaku untuk meminta keselesaan. Ia yang telah dikhianati oleh sahabat dan
kekasihnya. Ia yang hampir mengakhiri hidupnya karena satu kisah cinta yang gagal. Ia yang
telah mencurah kan segenap hatinya untuk kedua orang busuk hati tersebut. Ia yang kini tak
mempunyai dunia lagi.
Ku mohon, katakan padaku bahwa ia adalah korban terakhir yang dilahirkan dari pengkhianatan!
Tuesday, 30 December 2014
Dear Desember
Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku yang belum mendewasakan diri terhadap kekecewaan atau aku yang tetap berpendirian teguh akan adanya keajaiban. Aku terus mengingatkan diriku untuk tidak melakukan kesalahan yg sama. Untuk tidak pernah berharap lebih akan sesuatu. Aku mengendurkan harapanku. Aku mengatakan pada diriku, "berharaplah lebih sedikit dari sebelumnya." Namun sama saja. Harapan itu tak kunjung ku temui, bahkan serpihan nya saja tak tampak. Kemudian aku mengatakan pada diriku lagi, "berhentilah berharap sebelum kah tersakiti kesekian kalinya." Ya, aku sadar sulit untuk menghentikan diriku yang terus berharap.
Namu kali ini, aku putuskan diriku untuk tidak berharap sedikitpun dan membiarkan diri tenggelam dalam kekecewaan. Tak akan ada yang mengerti, karena sesungguhnya mereka hanya melihat sinar redup dari kedipan mataku yang sesungguhnya tak berarti banyak bagi yang keras hati. Bagai bintang yang menanggalkan langit pada siang hari seperti aku menanggalkan emosi pada duka yang diselimuti kabut. Bila kau tekan dahimu seperti kau melukai ragamu sendiri, maka ketahuilah tak semudah kau mengembalikan es yang sudah mencair ke bentuk semula. Sungguh, seharusnya kau mengerti bagaimana mengatakan mudahnya menjadi manusia yang peka dan beretika sebagaimana mestinya.
Maka ketahuilah surga tak seindah goresan luka yang dibubuhkan di telapak tangan sang dewa. Jagalah ragamu seperti kau menyelimuti ego mu dengan kegembiraan. Ketahuilah bagaimana aku bertahan merasuki setiap sel dalam tubuhku untuk ikut bertahan dalam malam dan kesengitan siang. Aku takkan pernah menggores lagi tinta merah di jari kelingking mu dengan amarah dan debu murka. Ketahuilah mulai kini aku akan bersikap sedingin salju di bulan desember.
Karena cukup sudah jelaga menjagaku dalam malam dan cukup sudah permata surya mengawasiku pada siang terik yang mencabik setiap inci ego manusia. Jika surga tak menampakkan serpihan nya pada jarak yang sempurna, maka sadarilah bahwa ia tengah menjauh mencari jarak yang kau rasakan dengan setiap nadir yang bergetar dalam jiwamu.
Selamat malam wahai jelaga. Mereka bilang kau datang karena ego manusia yang tak pernah kalah.
Wednesday, 24 December 2014
SO LONG BESTIE
*This semester, I have a Creative Writing Course for 3 credits, so I decided to publish one of my works on this class, man, I worked my ass off to get this done*
“Hello Kay,
you there?”
“Ya ya, it’s 3
am, you jerk. I’m in the middle of my dream,” said Kayla in heavy-sleepy-voice.
“It’s 3 pm
here, ok? Anyway I have to say how much I love you, I miss you, I hate you for
not being here. Because I got 2 good news! First is that I got a job at Tacos
and second is that I’ll be going for a holiday in New York! Can you just say
‘yeay’?” said Rayan excitedly.
“Man, I hate
you! Stop making me jealous please. So, when will you go there? Do me a favor
by sending a Forever 21 product?”
“Such as?”
“Anything,
blazer, skirt, shoes. Anything, pal, you’ve known me since we were 12. I
believe you know my taste. Am I right?”
“Jolly good,
jolly good.”
“Ray, since
when did you speak British?”
“Hahaha. Calm
down, Kay. I met Mayer, a British guy in class yesterday. The accent is
infectious, girl. Anyway, go back to sleep and have a nice dream, Kay. Bye.”
“Bye, Ray.
Talk to you later on Skype.”
As Kayla puts
her phone on the bedside, she keeps wondering how New York would be a beautiful
holiday destination. She whispers to herself, “to meet my best friend and have
some holiday will be awesome.” Then she goes back to sleep in her brown painted
room, 4mx6m sized filled with one door grey refrigerator in the corner, a water
dispenser next to the refrigerator, a 29 inch television hanging on the wall
right across to her bed, a desk in the other corner of the room, a drawer right
in front of the bathroom and a tree shaped coat hanger next to. A crowded room which
she loves to live and become an anti-social.
Well, what
would you say when you stayed away from people you feel only comfortable with?
She has become so apathetic since she stepped her foot in college, she’s been
living with her gadget to talk over the phone with her boyfriend and best
friends who live far away from her. All she’s been doing is checking on her
phone and smiling over the notification. A kind of life where nobody can
imagine how lonely she is. She used to be an extrovert cheerful girl, laughing
without any control, enjoying life, travelling to a lot destination, dreaming
something big and being a very good listener. But, everything’s changed right
after she couldn’t find her soul in Malang, the city where she decided to go
for university. She thinks she’s made a huge mistake by picking Universitas
Brawijaya as her choice in the first place. And now the only way to live in
Malang is to survive.
**Next morning
at Kayla’s room
“Shit! I’m
late! 20 minutes? What am I? A heavy-sleeper cow?” She groaned. She quickly jumps out of the bed
and goes straight to the bathroom to brush her teeth and wash her face rapidly.
Then she grabs whatever cloths she thinks suitable for today. She looks into a
clock hanging on the wall, it shows 9.25 and causes her more panic attack. As
she grabs her phone on the bedside, she is slipped on the slippery floor.
“EVERY MORNING, KAY?” She screams lividly. At least she’s still clumsy and it
doesn’t change. Quickly she gets up, reaches her phone, grabs her bag and
leaves.
***In the
campus
Kayla knocks
the door, “sorry ma’am, I’m late” said Kayla.
“Ok, please
come in, and find your seat quickly.”
“Thank you, ma’am.”
“Oh, Kayla, what
is your excuse for coming late now?”
Kayla shows a
smile, “I’m so sorry, ma’am, I got up late because my alarm didn’t work.” Kayla
told the truth, she forgot to change the battery yesterday and this morning she
paid the price. Luckily, Mrs. Emma let her come in today. Well, every time she
comes late, she’s been very understanding and kind.
As Kayla finds
a seat next to Dina, a girl she met in the first day of college, she checks her
phone out. There are 2 missed calls and 4 messages from Jonathan, her
boyfriend. She’s secretly being happy even though they had a fight last night.
“I knew you would text me first and asking for apology.” She whispers as she
replies, “Good morning, pumpkin! No need to apologize, it was my fault too, for
not letting you knew that I went out so late and made you waiting for me too
long.” She doesn’t change a bit, she’s still selfish. She knew it was her fault
but she didn’t want to apologize. Kayla is still Kayla.
She puts her
phone back into her bag, and begins to listen to the lecturer for a while,
writes couple things she needs to remember and suddenly gets slipped her mind
into the ‘observing things’ she always does. She notices every emotion inside
the class. Like Mrs. Emma is being cheerful today because she puts her stuff
neatly on the desk, she wears pink matching clothes on and her voice tone is
higher than usual. Or like, Widi, a boy Kayla dislikes so much, he always looks
mess but she can see how he’s not happy sitting next to Fahmi, a critically talkative
boy in class, and Widi definitely got distracted even when Fahmi is not
talking. She senses every hate and like in this class even when she acts so
apathetic to everyone. While stares out the window, she feels blessed to see a
mountain view with the fresh air blows
into the class, the sun shines brightly, birds are chirping outside, trees are
dancing with thewind, the sky is blue. A perfect picture she likes from this
city. And then she lost herself in day dreaming.
“Kay, are you
going home this silent week?” Dina suddenly spoke to Kayla.
“Of course, I
have more life there than here. Why?” Kayla replied.
“I was
wondering, are you going by train or plane? I’d like to join you.”
“Oh, I’ll go
by plane. I have planned it since last week and Jonathan will pick me up there.
Yeay!”
“What date
will it be? Have you bought the ticket yet?”
“Yes, I have.
I took Citilink on 24 December at
8.30 pm. A night flight from Juanda to Soekarno Hatta. Can you believe it, the
semester is almost done, in 19 days by the way, and I haven’t even felt
anything I can enjoy here?”
“I know
exactly your problem. We used to live in a big city and suddenly stranded in a
small one, live far away from everyone we used to live closer, dislike the
foods here. I miss Burger King by the
way. So yeah, I do understand. But please, be more open to people around, Kay.”
“I don’t know,
I don’t understand the language at all. It sounds freak, extremely freak. The
accent sounds funny. I feel very dumb, Din. What am I supposed to do? I prefer
dealing with my loneliness than the language. Even some lecturers use the
language sometimes in clss. How worse could it be?”
“Ya, I know.
What can we do? Just get a degree as soon as possible.”
“Believe me,
that is my plan.”
***Next week night
at Kayla’s boarding room
“Kay, where
were you? I’ve been waiting on skype for
15 minutes.” Said Rayan on the phone.
“You didn’t
tell me.”
“Well, I am
now, jerk. Go online, now like really now. I have a news!”
Kayla goes
straight to turn on her laptop and go online. She senses that the news is about
a girl, the idea just popped out from nowhere but she’s definitely right about
that.
“Hey! I met a
girl from Thailand! She’s sexy, pretty and smart. And next week she’ll be
moving to my apartment!”
“Ya-ha. Sounds
scary! When did you meet her again?”
“3 days ago.
She completely stole my heart, mind and brain. I’d like to be with her. I’m in
love, ok? Can you see from this video?”
“What on earth
did I think when I picked your video call? Is this some kind of joke? You
barely know her and the next thing she’ll be moving into your apartment? I
thought your apartment has only 2 bed rooms which are yours and your brothers.
Oh oh. She’ll sleep in your room? Have you lost your mind? You’re not even 20,
not get married, your money comes from your parents even your salary by working
part time at Tacos only enough to pay
your 2 weeks living cost. Is there any bomb you want to drop again? It’s
coincidentally Friday the 13th for God sake!” Kayla’s freaking out
and speaking in a high tone.
“So what’s the
big deal? My brother is living with her girlfriend next door. And I don’t get
the same chance? I’m living in a liberal country, this is my right.”
“And yet you
have a right to jeopardize our friendship.” Kayla lost her mind looking into
Rayan’s yellow room, she gets focused on a MXPX
poster behind Rayan. She then drags her eyes into her beloved best friend’s
face and can only see a moving mouth like a silent movie. Her heart broke
knowing that her best friend has changed and got overwhelmed by the freedom he
got there.
“……..KAY! Kay,
are you there? Where do you put your mind? You hear me? Look alive!” Rayan
begins to feel guilty to Kayla. He knew that this isn’t something good to tell
Kayla, but they have made promise to tell each other everything truly, they’re
best friend after all. And suddenly his heart also broke seeing Kayla dropping
tears. He quickly claps his hand and says, “don’t drop any tears now, you girl.
It’s not the time. I’m giving you a good news?”
“A good news?
Aren’t you afraid of making sins? You don’t obey the rule. God’s rule! By
sleeping with a girl which is not you wife yet? And what else…..”
“Whoa whoa
whoa! Stop right there, girl. Are you talking about God now? Wait, do you even
go to pray 5 times a day?” The heat between them are increasing.
“I might be
missed 1 or 2 sometimes, I might not do it perfectly but I try to make
improvement everyday. I don’t smoke, I don’t drink alcohol, I don’t eat pork or
dog, I SLEEP ALONE EVERY NIGHT! She yelled over the microphone.
“So you blame
me because you sleep alone every night? You got mad because of that? Believe
me, girl, that is ridiculously stupid!”
“OH MY EFFING
GOD! I have the most ridiculous best friend that I used to know! Please, God,
bring my best friend back into his body. This is not the one I’ve ever ordered
to be mine.” Kayla’s drowning in tears, and ends the call straightly. She cries
all night, wondering how to get Rayan back into someone he used to be. She
definitely feels broken now, losing someone she trusts the most, one of her
best friends she feels comfortable with.
Meanwhile in The
Veridian, the apartment when Rayan and his brother live, Rayan is laying on his
queen sized bed looking all over his room. The wall is soft yellow contrast to
the red carpet, some posters of his favorite bands are hanging above the study
desk, some stinking socks are lying around the floor, a basket next to the door
is practically full. Then his eyes and mind are focusing on a photo with solid
green frame he took with Kayla 7 months ago in Pari Island on his study desk.
It was the last and a beautiful holiday he had with Kayla and 7 others. And now
he really wants to go back to that time, he would hug Kayla as tight as he
could now, he wanted it so bad. Then Rayan begins to look all over his room
again. His eyes are captivated into George
Washington University sweater. A black colored sweater with letter G and W
printed in white and big on the chest right in the middle. “I got here, I learn
politics, she couldn’t go to Monash,
she couldn’t be a Pediatrician, she is stuck alone thousand miles away over
there and now I hurt her? What kind of best friend am I? I’m a terrible
person.” He spoke to himself. As he realizes the sound of ticking clock he
drags his eyes into it. It’s 11 am now, Rayan thinks that Kayla is probably
sleeping right now. If couple months ago they spent Friday night together, now
they fought over the idea of rules and freedom. Washington has Friday morning
now, and Malang has Friday night now. They are separated by time and distance,
their emotion are trapped between. They cannot find each other in the way they
used to do. If couple months ago they were easily driving into each other in
the traffic jam of Jakarta, now they could only talk to each other in a space
called internet.
Rayan walks
lazily into his drawer in the corner of his room. He grabs a bag he’d like to
use to put his cloths and stuff that he will bring to New York in less than 72
hours. He will have this holiday with his brother to enjoy the legendary New
York City and visit Central Park as he’s been always wanting since Kayla told
him about her holiday back there in 10th grade. “Time Square,
Central Park, Brooklyn, I’m coming but not with the one I promised you to go
with, she’s mad at me in this very moment.” Rayan spoke to himself as he’s
packing his stuff.
“Oit bro,
here’s your ticket for Monday, remember we have a morning flight from Ronald
Reagan to JFK, depart at 6 am, arrive at 7.08, delta airlines. Got it?”
“Can’t you
knock the door?” Rayan was shocked when his brother suddenly sitting on his
bed. He didn’t even hear any footstep.
“Calm down,
little boy. The door isn’t even closed, so what do you expect, huh?” His
brother replied.
“I expect you
to respect my privacy. Is that too much to ask?”
“Nah, you’re
exaggerating. Anyway, I’m done here, I gave you the ticket so you be grown up
now prepare all the stuffs and documents needed. I won’t let you ruin the
holiday by missing any immigration document and make us stuck in the airport.
Is that clear?”
“Crystal.”
Rayan replied shortly.
Unfortunately,
Rayan and Kayla aren’t speaking to each other until the next ten days. Then
when it is 23 December 2013, a photo message notification pops in Kayla’s
phone. It said, “isn’t it beautiful? Everything is white, except the people are
wearing their best winter outfit. A joyful ice skating day. Everyone seems happy skating with people they
love. And I’m missing mine. Join me here? XOXO”
Kayla looks
into the picture, Rayan is wearing the blue shawl she bought for him last year
for his birthday. He is smiling so happy wearing the black skating shoes,
bringing the same navy blue Converse bag
as hers that they bought together before going to college last June. And how
jealous she is to look the scenery behind Rayan which is very whitely beautiful
just the same picture she remembers in her mind back in 3 years ago there.
Couple minutes
later next picture popped up. The caption is, “it’s fuckin Plaza Hotel, baby!” And yes it’s right, a half body photo of
Rayan posing ridiculously in Central Park with the Plaza Hotel in the
background near the frozen river. Again, it’s whitely beautiful and Kayla can’t
stop being jealous of him. How couldn’t she be jealous, she always loves the
tastes of foods served in New York food truck. She misses the lights in Times
Square. Even Starbucks in New York has a different atmosphere than in usual
Starbucks in Jakarta. Instead of replying Rayan’s message, Kayla straightly
text Jonathan, “baby, will you take me to Starbucks in TIS Square tomorrow, ok?
Don’t forget 9.30 pm tomorrow, terminal 1C! Love you.” That is where the
favorite Starbuck Kayla loves to hang out, it’s only 20 minutes from her home
and where Kayla and Rayan used to go to have delicious green tea latte every
Friday night together.
***Next day
“Din, are you
ready? It’s 4.15 and driver of the travel who would pick us up is already here?
I’m going straight to your place in 5 minutes. Ok?” Said Kayla to Dina over the
phone.
“I’ve been
waiting since half an hour ago. Of course I’m ready. Take care, Kay.”
Kayla drags
the suitcase with her right hand and holds a purse with her left hand as she
walks down the stair she ask a security in her boarding house to take her
suitcase.
“Are you going
back to Jakarta, mbak Kayla?” Asked
the security guy.
“Yes, I am.
Please take my suitcase into the silver Avanza
out there, I guess it’s been waiting for 10 minutes here.”
The security
guy brings it and say good bye to Kayla. As she looks into the figure and the
building the she’s been living for 4 months fade away as the car is leaving.
***In Juanda
International Airport
“We’re here.
Gosh! 3 hours long to get here, Din, can you believe it?”
“Doesn’t
matter we’re here. In couple hours we’ll be home, Kay.”
“Now we’re here,
just have to wait here until the time to check in.”
Until the time
they both go for checking in at the Citilink
counter, go straight to the waiting room, and enter the plane. How Kayla
loves sitting in the window seat looking underneath seeing the lights of the
city, that’s why she always picks the night flight. Less than 2 hours she’ll be
enjoying the green tea latte she’s been wanting and thinking for 4 months
because she can’t find even one small Starbucks in Malang.
“Welcome to
Jakarta for all the Citilink passengers
flight number QG 9725, there’s no time difference between Surabaya and Jakarta.
So we will be landing soon in 21.27, in Soekarno-Hatta International Airport.
Please fasten your seatbelt.” The flight attendance announced.
The plane has
landed safely, Kayla and Dina quickly grab their small suitcases above them
between the crowd of the people who are also eager to grab theirs too. “There’s
nothing better than hometown, girl! And here we are!” Said Dina excitedly.
“The best
thing is we don’t have to wait for baggage like hell down there.”
Both girls
walks fast to meet their picker, Kayla is very sure that Jonathan is waiting
outside and Dina’s brother is also waiting outside. “Finally, hometown!
Finally! Roti Bakar Eddy, Burcik, Calais
Tea, Churreria! Bakerzin! BurgerKing! We’re gonna be fat bitches here.” Kayla yelled excitedly as
they both are walking toward the gate.
It’s just like
the usual airport, crowded, full and they looking for each other’s picker. In
just 30 seconds Dina can find his brother, she takes Kayla and introduces her
to him. “Bro, this is my classmate, Kayla Dayanna, she lives in Pondok Kelapa.”
“Hello, I’m
Guhti Irfandi, just call me Iguh.” Dina’s brother replied.
They’ve talked
for couple minutes and the next thing is Dina and her brother left Kayla alone
and she’s still looking for Jonathan. She’s starting to freak out thinking that
there might be a possibility that Jonathan forgot to pick her up. “Where is
he?” She asked to herself. She keeps looking in the crowd of people, and find
figure that she doesn’t expect to see at all. Her heart skips a beat, as she
closes her mouth from jaw dropping with her right hand, accidentally drops some
tears and control her brain to try to decide which one is reality of imaginary
and all she looks toward her is a tall guy with a blue navy Converse backpack holding 2 yellow
plastic bags of Forever 21.
THE END
Sunday, 21 December 2014
MOMMY BLOGGER
I have a mom who is a blogger. It makes her a mommy blogger.
Gue sadar banget punya emak-ibunda-mama-ibu-mami-mama yang sangat cerewet namun cuek. Sejujurnya, beliau baru - baru ini aja jadi bawel. Entah karena faktor usianya atau faktor anak - anaknya yang semakin tumbuh semakin dewasa dan memiliki dunia yang lebih complicated ketimbang saat masih kanak - kanak sehingga beliau harus semakin terlibat lebih dalam dan mengarahkan lebih tegas. Because I've seen her showing her mommy materials more than the past years.
Dari gue kecil beliau adalah seorang ibu yang gue anggap sibuk berkecimpung dalam urusan perkantoran. Ketika ibu - ibu sosialita di TK - SD gue nongkrong di kantin atau parkiran, nyokap gue di kantor. Ketika ibu - ibu nongkrong tersebut nganterin anak - anaknya pergi ke acara - acara sekolah seperti renang atau lomba, nyokap gue di kantor. Beberapa kali minta tolong tante gue nganterin gue, atau pembantu yang ada di rumah, atau bokap gue dulu. Sesekali sih beliau menyempatkan diri datang. Tapi gue salut sama doi, di hari minggu dimana orang - orang yang kerja istirahat, nyokap gue selalu datang dan mendukung gue. Tapi yang namanya ibu - ibu sih ye, kemana - mana gak jauh dari tustel. Nyokap gue bertanggung jawab dalam setiap foto dari masa ke masa perkembangan gue dan adik gue dari kecil.
Gue masih inget banget, setiap nyokap gue minta bokap dulu ngasihin film buat dicetak. Engga kayak sekarang, cuma setor flashdisk ke fujifilm atau kodak terdekat. Gue selalu excited setiap mau lihat hasil cetakannya, beda sama sekarang abis foto kalo engga suka tinggal delete. Kalo kata orang - orang tua sekarang mah, "engga ada seni - seni nya anak jaman sekarang." Dan gue setuju sih.
Balik ke obrolan emak gue. Beliau adalah sosok cuek pada dasarnya. Sepertinya itu nurun ke gue. Dulu doi sering cerita, bodo amatan sama lingkungan sekitar. Itu juga doi cerita karena gue juga kelewat cuek, lebih bodo amatan sama sekitar. Tapi sesungguhnya gue sangat bersyukur sama sifat gue yang itu. Gue lebih bisa ignore perkataan atau omongan orang sekitar.
"Bodo amat deh lo mau bilang gue apa, ya gue begini emang."
Gue tumbuh jadi anak anti-baper. Orang mau ngatain gue apa juga gue engga begitu bawa perasaan. Malah, kalo ada orang nyindir gue, gue engga ngerti itu disinidir sampe ada yang lain lagi yang ngasih tau kalo gue lagi disindir. Hasil kesimpulan gue adalah:
There's a fine line between cuek dan gak peka atau polos dan bego.
Pada akhirnya gue akan berkata,
"oh lo lagi nyindir gue?"
Dan mereka akan berkata,
"iyalah, bego."
Ta-tapi tolong jangan simpulkan saya bego.
Pertanyaan gue adalah:
Apakah ibu saya mengalami hal yang sama dengan saya?
Kemudian ibu saya ucluk - ucluk datang dan berkata,
"engga, dulu mama engga segitunya, kakak aja yang emang kebangetan."
Pembelaan yang karismatik.
Dari segala kecuekan dan ketegasan yang beliau tunjukkan. Disitulah gue sangat tidak menyangka ibu - ibu berkulit putih jepang itu bisa miara sebuah blog.
Blog yang cukup populer dengan segala konten nya. Dari yang isinya bisa dibilang sesuka jidat sampe informatif abezzzz. Blog yang memenuhi kategori untuk disedikan space iklan. Menghasilkan uang, biapun engga seberapa. Blog yang isinya curhatan, cerita, resep, informasi hukum dan imigrasi. Blog yang sesungguhnya menyedot banyak pengunjung karena banyak informasi mengenai keimigrasian.
Wetttt wetttt selooooo...... Nyokap gue kaga kerja di kantor imigrasi atau kedutaan.
Takdir menunjukkan dia mendapatkan suami WNA untuk pernikahan keduanya. Jadi beliau harus ikut terjun langsung mengurus segala dokumen yang dibutuhkan bokap tiri gue untuk bisa menikah dan masuk Indonesia dengan mudah. Hasil pengalaman ngurusin dokumen beserta tetek bengeknya dan berurusan dengan busuknya birokrasi Indonesia. Beliau bisa menelurkan informasi - informasi yang didapatkannya disebuah ruang dunia maya bernama internet.
Visitornya pun datang dari berbagai belahan Indonesia dan dunia.
A mommy blogger, a kind of mom I've never thought to have one.
She is just amazing the way she is. Here's the blog:
http://ilalanggrass.blogspot.com/
About me
MY MOM, EVERYONE........
Gue sadar banget punya emak-ibunda-mama-ibu-mami-mama yang sangat cerewet namun cuek. Sejujurnya, beliau baru - baru ini aja jadi bawel. Entah karena faktor usianya atau faktor anak - anaknya yang semakin tumbuh semakin dewasa dan memiliki dunia yang lebih complicated ketimbang saat masih kanak - kanak sehingga beliau harus semakin terlibat lebih dalam dan mengarahkan lebih tegas. Because I've seen her showing her mommy materials more than the past years.
Dari gue kecil beliau adalah seorang ibu yang gue anggap sibuk berkecimpung dalam urusan perkantoran. Ketika ibu - ibu sosialita di TK - SD gue nongkrong di kantin atau parkiran, nyokap gue di kantor. Ketika ibu - ibu nongkrong tersebut nganterin anak - anaknya pergi ke acara - acara sekolah seperti renang atau lomba, nyokap gue di kantor. Beberapa kali minta tolong tante gue nganterin gue, atau pembantu yang ada di rumah, atau bokap gue dulu. Sesekali sih beliau menyempatkan diri datang. Tapi gue salut sama doi, di hari minggu dimana orang - orang yang kerja istirahat, nyokap gue selalu datang dan mendukung gue. Tapi yang namanya ibu - ibu sih ye, kemana - mana gak jauh dari tustel. Nyokap gue bertanggung jawab dalam setiap foto dari masa ke masa perkembangan gue dan adik gue dari kecil.
![]() |
| foto hasil tustel jaman dahulu kala (1998) |
![]() |
| foto hasil kamera digital (2009) |
Gue masih inget banget, setiap nyokap gue minta bokap dulu ngasihin film buat dicetak. Engga kayak sekarang, cuma setor flashdisk ke fujifilm atau kodak terdekat. Gue selalu excited setiap mau lihat hasil cetakannya, beda sama sekarang abis foto kalo engga suka tinggal delete. Kalo kata orang - orang tua sekarang mah, "engga ada seni - seni nya anak jaman sekarang." Dan gue setuju sih.
Balik ke obrolan emak gue. Beliau adalah sosok cuek pada dasarnya. Sepertinya itu nurun ke gue. Dulu doi sering cerita, bodo amatan sama lingkungan sekitar. Itu juga doi cerita karena gue juga kelewat cuek, lebih bodo amatan sama sekitar. Tapi sesungguhnya gue sangat bersyukur sama sifat gue yang itu. Gue lebih bisa ignore perkataan atau omongan orang sekitar.
"Bodo amat deh lo mau bilang gue apa, ya gue begini emang."
Gue tumbuh jadi anak anti-baper. Orang mau ngatain gue apa juga gue engga begitu bawa perasaan. Malah, kalo ada orang nyindir gue, gue engga ngerti itu disinidir sampe ada yang lain lagi yang ngasih tau kalo gue lagi disindir. Hasil kesimpulan gue adalah:
There's a fine line between cuek dan gak peka atau polos dan bego.
Pada akhirnya gue akan berkata,
"oh lo lagi nyindir gue?"
Dan mereka akan berkata,
"iyalah, bego."
Ta-tapi tolong jangan simpulkan saya bego.
Pertanyaan gue adalah:
Apakah ibu saya mengalami hal yang sama dengan saya?
Kemudian ibu saya ucluk - ucluk datang dan berkata,
"engga, dulu mama engga segitunya, kakak aja yang emang kebangetan."
Pembelaan yang karismatik.
Dari segala kecuekan dan ketegasan yang beliau tunjukkan. Disitulah gue sangat tidak menyangka ibu - ibu berkulit putih jepang itu bisa miara sebuah blog.
Blog yang cukup populer dengan segala konten nya. Dari yang isinya bisa dibilang sesuka jidat sampe informatif abezzzz. Blog yang memenuhi kategori untuk disedikan space iklan. Menghasilkan uang, biapun engga seberapa. Blog yang isinya curhatan, cerita, resep, informasi hukum dan imigrasi. Blog yang sesungguhnya menyedot banyak pengunjung karena banyak informasi mengenai keimigrasian.
Wetttt wetttt selooooo...... Nyokap gue kaga kerja di kantor imigrasi atau kedutaan.
Takdir menunjukkan dia mendapatkan suami WNA untuk pernikahan keduanya. Jadi beliau harus ikut terjun langsung mengurus segala dokumen yang dibutuhkan bokap tiri gue untuk bisa menikah dan masuk Indonesia dengan mudah. Hasil pengalaman ngurusin dokumen beserta tetek bengeknya dan berurusan dengan busuknya birokrasi Indonesia. Beliau bisa menelurkan informasi - informasi yang didapatkannya disebuah ruang dunia maya bernama internet.
Visitornya pun datang dari berbagai belahan Indonesia dan dunia.
A mommy blogger, a kind of mom I've never thought to have one.
She is just amazing the way she is. Here's the blog:http://ilalanggrass.blogspot.com/
About me
| Gender | Female |
|---|---|
| Location | Jakarta, Indonesia |
| Introduction | a hard working woman, a mother of two daughters and a son, a wife to a handsome hubby, an employee of an industrial company. |
Thursday, 11 December 2014
Balada Ngintip Orang Mandi
Ngomongin mandi, rasanya gue harus mikir 2x. Pasalnya, Malang lagi dingin banget, bor. Setiap pagi gue turun kasur, menginjakkan kaki di atas karpet kemudian selang berapa langkah nginjek ubin. Nginjek ubin itu yang bikin gue melek pagi - pagi!
It gets worse in the night. Ya kali, seprei kasur aja ikutan dingin.
Malang keras, bos!
Tapi bukan, bukan itu fokusnya.
Lo pasti tau kan omongan seru anak - anak SD, "iyyyy bintitan, abis ngintip orang mandi yaaaa?!"
Anjir dah. Gue bintitan! Gue merasa dijudge tukang ngintip orang mandi (yang notabene ironis, mengingat gue males banget mandi), ya suka suka lo deh.
Kira - kira, Selasa kemaren gue ngerasa mata kiri gue pegel dan agak sakit. Tidak mau ambil pusing, gue cuekin aja deh. Tapi besok paginya, gue ngaca dan menemukan mata kiri gue bengeb kayak abis digebukin sekampung. Langsung deh tuh gue telepon emak. Dan kemudian memberanikan diri ke dokter. Ini nih gak enaknya ngerantau, semuanya sendirian. Sakit ya sakit sendirian.
*mendadak homesick*
FYI, dokter mata di Malang itu engga banyak. Engga kayak di Jakarta, hampir setiap rumah sakit ada dokter spesialis mata. Jadi, di google gue nemu 2 klinik mata. Di daerah Blimbing dan di pusat kota. Karena di Blimbing gue teleponin gak diangkat, cus dah telepon yang di pusat kota. Alamatnya di Jalan Dr Cipto 3, dekat dengan Best Western OJ Hotel. Yaduuuu itu jauh banget dah. Tapi daripada kenapa - kenapa, ya mau gak mau harus mau. Makanya deh tu, selesai kelas pertama gue langsung cabut ke sana biarpun ujan - ujanan.
Sampe di sana nemu dah tempat namanya Malang Eye Center. Nyampe resepsionis gue daftar sebagai pasien baru, terus nunggu gak sampe 5 menit buat dicek matanya. Kayak di optik gitu deh. Ada 3 step. Yang pertama semacam ngecek fokus. Yang ke dua ngecek tekanan bola mata (kalo gak salah), yang ini seru dah mata gue kayak ditembak pake angin dan itu ngagetin. Terus yang terakhir ngecek minus mata, kayak di optik banget deh, baca huruf - huruf sama angka di jarak tertentu. Kacamata gue pun ikut dicek. Selesai pengecekan, petugasnya nganter gue ke depan ruang praktek dokternya. Mungkin karena itu lagi hujan kali ya, klinik nya sepi dan cuma butuh 1 antrian sebelum gue bisa masuk ruangan dokternya.
Dokter nya nanya - nanya biasa si, "keluhannya apa?" Ya gue jelasin aja, mata kiri gue bengkak, gak tau penyebabnya. Terus gue disuruh duduk di kursi yang dilengkapi segala macem peralatan canggih dan lengkap buat ngecek mata. Terus gak lama, mata gue diliat - liat. Terus gue divonis MAU TIMBILAN.
"Timbilan apa, dok?"
"Ya timbilan.....hemmmmm"
Gue rasa dia bingung, kemudian gue tebak - tebak, "bintitan, dok?"
"Iya, itu nama lainnya."
Anjir dah. Fix dicengin di kampus ini sih.
Yaelah borrrr.
Terus yang agak lucunya, gue dikasih salep mata dan hampir dikasih antibiotik. Tapi kemudian gue bilang ke dokternya kenyataan tentang hidup gue, kalo gue gak bisa nelen obat hahahaha.
Yaudah deh tuh, jadinya salep doangan.
Gue tebus obat dan bayar ke kasirnya. Biayanya Rp 130.000 buat konsul dokter terus Rp 42.500 buat salepnya. Ya lumayan deh, Tapi, pas nebus obatnya.......jeng jeng jeng
Cara pakainya dioleskan ke mata. KE MATA?!? Ke bola mata? Yang bener lu, mbak?
Yaelah bor, pake softlense aja kaga pernah sukses.
Subscribe to:
Posts (Atom)


